Siapa sih yang gak kenal sama Toys “R” Us? Sebagai salah satu jaringan toko mainan terbesar dan salah satu surganya pecinta mainan, gak sedikit orang yang punya kenangan manis sama toko ajaib ini baik di dalam ataupun luar negeri. Yup, toko mainan yang bisa dibilang masih menjadi tujuan utama para toy slave untuk hunting mainan ini juga pernah nangkring di tanah air, sampe akhirnya harus cabut. Dan beberapa waktu lalu tepatnya pada tanggal 18 September 2017 akhirnya Toys “R” Us ini mengajukan Chapter 11 (salah satu bab dalam Undang-Undang Kepailitan tentang reorganisasi sesuai hukum kepailitan Amerika Serikat) yang mana mengisyratkan sebagai Toys “R” Us ini harus bangkrut.

Geoffrey the Giraffe, maskot kebanggaan Toys “R” Us

Sebelum mengupas lebih dalam tentang jatunya surga mainan ini, coba kita bahas sebentar asal muasal Toys “R” Us . Percaya gak percaya, Toys “R” Us yang pertama kali didirikan sama Charlez Lazarus tahun 1948  di Washington, D.C., United States ini dulunya adalah toko peralatan untuk anak balita.

Dan akhirnya tahun 1969 Charles Lazarus dan beberapa orang seperti John Eyler akhirnya memutuskan untuk coba ngembangin perusahaannya ke ranah mainan dan menciptakan sebuah maskot untuk Toys “R” Us yaitu Geoffrey the Giraffe.

Kok Toys “R” Us bisa bangkrut?

Balik lagi ngomongin bangkrutnya Toys “R” Us. Pasti ada beberapa di antara kalian yang bingung kenapa benteng milik Geoffrey si jerapah akhirnya bisa runtuh? Well, ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan kebangkrutan dari toko mainan raksasa ini. Beberapa di antaranya adalah:

1. Toys “R” Us ngutang

Hutang bisa menjadi salah satu faktor pemicu dari kebangrutan Toys “R” Us. Dari pengajuan chapter 11 yang baru-baru ini di ajukan oleh Toys R Us, ternyata toko mainan ini mempunyai hutang sebesar USD$ 7,9 miliar terhadap aset sebesar USD$ 6,6 miliar. Disebutin juga kalo Toys “R” Us punya lebih dari 100.000 kreditur. Yang terbesar adalah Bank Of New York (USD$ 208 juta), Mattel (USD$ 136 juta), dan Hasbro (USD$ 59 juta).

2. Kisahnya dengan Amazon kandas

Salah satu faktor yang bisa membuat Toys “R” Us akhirnya harus ngibarin bendera putih juga bisa berasal dari gelut mereka dengan raksasa industri Amazon. Sedikit kilas balik, Toys “R” Us pernah jadi raja industri mainan pada tahun 1999 di era online retailer baru dimulai. Waktu itu website Toys “R” Us bisa dibilang sukses banget. Sampe-sampe saking banyaknya pembelian dan permintaan dari para pelanggan, mereka sempat gak bisa nyediain stok yang cukup untuk para pelanggan mereka. Hal itu ngasih dampak positif ke  mereka karena dengan adanya perkembangan yang cepat tersebut Toys “R” Us dipilih sebagai supplier mainan resmi dan eksklusif untuk Amazon.

Kesuksesan untuk Toys “R” Us tersebut ternyata gak bertahan lama, soalnya Amazon akhirnya murusin untuk ngeluncurin Amazon Marketplace, dimana sekarang pilihan mainan yang ditawarin Amazon gak lagi cuma mainan yang datang dari Toys “R” Us, karena Amazon Marketplace memungkinan banyak orang ngenjual barang-barang yang gak ada di Toys “R” Us. Sampai pada akhirnya Toys R Us milih untuk menggugat Amazon dan fokus untuk gak ngejual produk-produknya lagi disana. Hasilnya? Nihil. Alias dengan gugatan tersebut, penjualan Amazon malah berhasil nglampauin penjualan milik Toys “R” Us.

Source: ecommerceDB.com

 

Toys “R” Us ke depannya?

Terus, dengan adanya beberapa faktor yang udah kita bahas tadi, kepikiran gak sih akan kayak gimana nasib Toys “R” Us kedepannya? Kalo tebakan analisa gembel dari gue sih, yang bakalan kejadian itu kayak gini:

1. Produsen mainan ikutan pusing

Bangkrutnya Toys “R” Us bisa jadi pukulan keras bagi para produsen dolanan yang menjadi supplier Toys “R” Us sendiri, salah satunya adalah Mattel. Sebagai sebuah perusahaan raksasa, Mattel beberapa tahun terakhir sempet diberitain mengalami penurunan penjualan, sampe mereka harus ngerombak beberapa tatanan perusahaan, salah satunya adalah pergantian CEO. Dengan bangkrutnya Toys “R” Us, Mattel pastinya akan ngerubah strategi distribusi mereka kedepannya.

2. Nasib Store Exclusive Item

Sebagai toy slave, pastinya kalian udah gak asing lagi dong dengan istilah exclusive item. Beberapa produsen dolanan juga udah sering banget nerapin strategi ini ke beberapa produknya, salah satunya Hasbro dengan Marvel Legends & Star Wars The Black Series yang banyak banget dolanannya yang dirilis sebagai Toys “R” Us Exclusive. Tebakan ngasal gue adalah, mungkin banyaknya store exclusive item ini bakalan berkurang.

3. Lapak Online

Point ketiga ini bakalan nyambung sama point gue sebelumnya (exclusive item). Gue sebagai toy slave ngeliat hal ini bakal menyebabkan beberapa produsen dolanan bakal bikin online store untuk beberapa produk mereka sendiri. Online store yang mereka buat ini mungkin nantinya hanya akan menjual exclusive item yang levelnya sama dengan store exclusive item.

4. Rebranding

Beberapa hari setelah ada berita tentang bangkrutnya Toys “R” Us gak sedikit orang yang memprediksikan langkah selanjutnya yang akan terjadi adalah rebranding. Mungkin setelah semua masalah Toys “R” Us ini beres, mereka akan diakuisisi oleh ikidolanan dan akan ngalamin perombakan besar dan mungkin akan jauh berbeda dari konsep Toys “R” Us yang selama ini kita kenal.

Untuk kedepannya gue juga masih penasaran akan kayak gimana kelanjutannya. Jujur, sebagai orang yang pernah beberapa kali hunting dolanan di Toys “R” Us baik di dalam negeri atau ketika lagi berkelana di negeri orang, gue sangat sedih denger berita ini. Buat yang bertanya-tanya apakah beberapa toko Toys “R” Us ini masih beroperasi atau gak, jawabannya: MASIH, gaes! Untuk saat ini kalian masih bisa berkunjung ke toko-toko Toys “R” Us yang ada di Eropa, Australia, dan Asia. Karena dari info yang didapat dari filing Chapter 11, toko-toko yang ada di regional tersebut adalah entitas yang berbeda dari Toys “R” Us pusat di Amerika Serita sana.

Thank you for the memories, Toys “R” Us!

Facebook Comments