*sfx: suara vacum cleaner, sapu lidi, lap basah, disertai bersin-bersin alergi debu.

Selesai sudah adegan bersih-bersih dashboard akun saya di website ini, karena udah lama banget nggak dibuka untuk nulis, sampe debuan dan penuh laba-laba.

Di sela-sela kesibukan saya sebagai sobat kismin, saya pun nyempetin diri buka mention tab di Twitter ikidolanan. Saya sih ngarepnya ada ratusan notifikasi, tapi saya lupa kalo kami bukan bukan selebtwit, jadi ya satu atau dua notifikasi udah seneng banget. Tapi beberapa notifikasi ternyata cukup menyita perhatian saya. Ada followers yang mention ikidolanan di berita Metro TV dengan headline “Zumi Gunakan Gratifikasi untuk Beli Action Figure Rp 52 Juta.”

Nah, kalo ada berita yang berbau kontroversi kayak gini sifat ghibah saya tuh suka tiba-tiba bangkit karena ngomongin orang itu emang asik. Tapi ini ghibah juga karena ada konten mainannya kok. Udah kismin, ghibah pula, Astaghfirullah.

Sebelum itu agar kita semua mengerti konteks beritanya, mari kita sedikit analisa headline tersebut. (disarankan membaca analisa dengan iringan lagu Detective Conan)

“Zumi Gunakan Gratifikasi untuk Beli Action Figure Rp 52 Juta.”

Zumi ini apa? Atau siapa? Kita nggak tau apakah dia sebuah varietas eceng gondok atau jangan-jangan sejenis kotak amal mesjid? Tapi posisi “Zumi” di kalimat ini adalah sebagai subjek, yang didukung oleh kata “Gunakan” sebagai predikatnya. Jadi asumsi saya Zumi ini adalah entitas yang bisa melakukan suatu kegiatan. Tapi saya belom tau deh ini manusia, atau (lagi-lagi) eceng gondok? Yang pasti dia bukan kotak amal mesjid.

Lalu ada kata “Gratifikasi” yang berasal dari kata gratis. Kata “Gratifikasi” ini identik dengan pejabat publik ataupun politisi. Wow berarti Zumi ini adalah politisi? Berarti dia adalah homo spaiens karena nggak mungkin eceng gondok menerima gratifikasi.

Tampaknya saya tau siapa Zumi yang dimaksud. Tapi nggak mau ikidolanan terkena cipratan berbau politik di setiap beritanya. Jadi saya akan berusaha menyensor nama beliau demi kebaikan bersama.

Gubernur nonaktif Jambi yang bernama Zumi Zo*la ini (sebuah sensor yang tidak berguna, tapi patut diberi apresiasi) katanya make gratifikasi segede 52 juta rupiah buat beli action figure. LIMA PULUH DUA JUTA. Sebuah angka yang cukup gede untuk belanja mainan. Saya mah mau beli mainan 500 ribu aja galaunya sampe shalat istikharah sebulan.

Zumi ini dulunya aktor, penah main sinetron. Dulu kakak saya suka, soalnya katanya dia ganteng. Tapi kata ibu saya sih gantengan saya. Tapi setalah saya pikir, kalimat barusan tidak cukup informatif untuk ditulis, namun sudah terlanjur ditulis jadi silakan lanjut baca paragraf selanjutnya ya.

Di berita itu tertulis:

Jaksa Rini membeberkan, pada November 2017 juga membayar 16 item orderan di XM Studios, seharga SGD5.600 dengan setor tunai. Pada Juni hingga November 2017 membayar pelunasan pemesanan sembilan patung action figure Marvel dari Singapura seharga SGD6,150.

Saya kira beli action figures apaan 52 juta. Nggak taunya beli statue XM Studio, pantes aja. Tapi, hmmm….ada yang perlu diluruskan di sini.

  1.  Action figures dan patung (statue) itu dua hal yang berbeda. Action figures itu adalah figurine yang bisa digerakan (poseable), sedangkan patung atau statue itu bersifat statis, diem, membatu, sama kayak kalo pertama kali ketemu calon mertua.
  2. XM Studios setau saya nggak produksi action figures, tapi hanya produksi statue.
  3. Barusan saya sok tau aja agar dikira kredibel.

Saya tuh jadi penasaran ya, ini politisi ngapain ngabisin duit gratifikasi buat beli “mainan” 52 juta? Mungkin ini adalah contoh sempurna dari isiitlah “Racun Dolanan tak pernah pandang bulu”. Sebuah istilah yang baru aja saya ciptain sebelum kamu membaca kalimat selanjutnya. Tapi bener deh saya pengen tau.

1. Agar Menyandang Status Sultan

Harusnya sih bukan Sultan yang ini.

Saya curiga, jangan-jangan Zumi ini tergabung dalam ordo rahasia Sultan Khilaf. Sebuah kelompok macam Freemansonry dan Illuminati gitu tapi yang ini isinya para sultan yang gemar meng-khilafkan diri di lingkaran setan mainan. Cuma yang nyandang status sultan aja yang bisa gabung, kalo kayak saya dan kamu-kamu ini ojelas tida bisa. Namun sayangnya dia menyandang status sultan dengan cara-cara yang tidak layak ditiru karena sebagai pejabat publik memang dilarang untuk menerima segala macam bentuk gratifikasi.

2. Ternyata Dia Hipster

Disaat politisi lain make duit non-halal untuk beli mobil mevvah, beli rumah, ayam geprek dan segala macam kesenangan duniawi lainnya, Zumi ternyata cukup hipster. Dia nggak mau disamain dengan politisi lain dan akhirnya make duitnya untuk belanja mainan. Jadi kalo lagi pada arisan, dia bisa pamer dolanan soalnya yang lain nggak ada yang koleksi mainan. Mantap.

3. Sisi Gelap Dunia Mainan

Ini harusnya bisa masang foto yang lain, tapi tiba-tiba pengen liat foto Maudy Ayunda jadi ya monmaap

Semua hal pasti punya sisi gelap dan sisi terang. Nggak mungkin gelap terus, atau terang terus–karena yang terang terus cuma Maudy Ayunda, cakepnya bikin silau. Tapi kayaknya Zumi ini sudah dibutakan oleh Racun Dolanan yang terlanjur masuk ke dalam jiwa raganya dan akhirnya terjerumus masuk ke sisi gelap dunia mainan. Mungkin dia lagi pengen banget mainan, tapi bokek. Eh ada duit gratifikasi ya udah deh khilaf.

4. Dia sering mantengin ikidolanan

Alasan ke-4 ini jangan-jangan benar adanya. Siapa tau dia sering mantengin ikidolanan dan akhirnya keracunan. Kalo bener itu adanya, saya sedikit was-was takutnya nanti ikidolanan didatengin KPK karena turut berkontribusi meracuni sang politisi untuk terjerumus ke dunia dolanan ini. Tapi sumpah, saya nggak ada sangkut pautnya sama beliau.

Saya agak gimana gitu nulis artikel ini. Udah ngomongin orang, terus was-was didatengin KPK. Tapi, penyertaan foto Maudy Ayunda di atas cukup bikin saya lebih tenang. Udah ya saya mau ke warung depan beli galon.

Facebook Comments